/Kelontong

Kelontong

Kata kelontong memiliki sejarah yang cukup tua. Kata ini merujuk kepada alat bunyi-bunyian yang selalu dibawa oleh pedagang keliling Tionghoa pada saat menjajakan barang dagangannya tempo dulu. Kelontong ini berbentuk tambur (rebana) mini bertangkai dan di kedua sisinya diberi tali pendek dengan biji bulat di ujungnya. Tambur mini ini bisa terbuat dari kaleng, kulit samak, atau kertas semen. Dengan digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan pada tangkainya, maka biji bulat ini akan “menabuh” tambur ini dengan suara kelontong-kelontong. Orang di dalam rumah akan segera tahu bahwa penjaja barang keliling sedang lewat di rumahnya mendengar suara kelontong yang khas ini. Pada zaman itu sang penjaja disebut dengan Tjina kelontong.

Menurut Wikipedia toko kelontong adalah toko kecil yang mudah diakses umum dan terletak dijalan yang ramai,SPBU,Stasiun kereta api atau dipemukiman padat penduduk diperkotaan atau diperumahan.Toko kelontong umumnya menjual kebutuhan sehari hari seperti sembako,sabun,susu,makanan ringan,alat tulis,alat listrik,pulsa elektrik dan lain-lain.Toko jenis ini kebanyakan bersifat tradisional dimana pembeli tidak bisa leluasa mengambil barang sendiri biasanya ada sekat pemisah berupa etalase atau rak.

Jika diperhatikan sebenarnya barang yang dijual ditoko kelontong hampir mirip dengan yang djual diminimarket seperti Alfamart atau Indomart hanya saja minimarket sudah modern.Masyarakat sering juga menyebut Toko ini sebagai toko sembako.

.”

Toko kelontong atau Mini Market (bahasa Inggrisconvenience store) adalah suatu toko kecil yang umumnya mudah diakses umum atau bersifat lokal. Toko semacam ini umumnya berlokasi di jalan yang ramai, stasiun pengisian bahan bakar (SPBU), atau stasiun kereta api. Toko kelontong sering ditemukan di lokasi perumahan padat di perkotaan. Kebanyakan toko kelontong masih bersifat tradisional dan konvensional, di mana pembeli tidak bisa mengambil barangnya sendiri, karena rak toko yang belum modern dan menjadi pembatas antara penjual dan pembeli.